Pasalnya, agar sidik jari dapat terbaca oleh perangkat lunak rekonstruksi, foto tersebut harus diambil dengan resolusi yang sangat tajam, pencahayaan yang terang, dan fokus yang tepat pada jari. Foto selfie dengan jarak yang jauh atau hasil tangkapan kamera yang buram tidak akan memberikan detail yang cukup bagi penjahat siber untuk merekonstruksi sidik jari.
Selain itu, teknologi rekonstruksi ini membutuhkan keahlian tinggi dan perangkat keras khusus sehingga jauh lebih sulit dan tidak efisien bagi pelaku kejahatan siber dibandingkan dengan metode peretasan lainnya, seperti phishing atau pencurian database. Sistem keamanan biometrik modern sebagian juga sudah bisa mengenali kulit jari asli dengan replika, mengurangi risiko tersebut.
Jadi meski secara teknis risiko ini ada, penggunaannya untuk pencurian identitas tergolong sangat kecil.
(Rahman Asmardika)