JAKARTA - Serangan rudal Iran ke Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi pekan lalu dilaporkan menghancurkan salah satu aset penting militer Amerika Serikat (AS): pesawat E-3 Sentry AWACS. Foto-foto yang beredar menunjukkan pesawat komando dan kontrol udara itu mengalami kerusakan sangat berat, bahkan bisa dikatakan hancur total.
E-3 Sentry AWACS bukanlah pesawat militer biasa, melainkan sebuah platform airborne warning and control system alias sistem peringatan dini dan kendali udara yang berfungsi sebagai pusat komando dan pemantau dari langit. Dalam operasi militer, E-3 juga berfungsi sebagai “mata” yang membantu memantau pergerakan pesawat lawan, mengatur lalu lintas udara tempur, hingga mengoordinasikan serangan dan pertahanan udara, membuat perannya sangat vital bagi militer AS.
Secara teknis, E-3 Sentry merupakan modifikasi dari Boeing 707/320 dengan panjang 46 meter dan sayap dengan rentang 44,4 meter. Pesawat ini ditenagai empat mesin turbofan Pratt & Whitney TF33-PW-100A dengan dorongan masing-masing 21.000 pon.
Sebagai pesawat komando, E-3 Sentry memiliki ketinggian operasional di atas 41.000 kaki dan mampu terbang selama 8 jam atau sejauh 5.000 mil laut tanpa mengisi ulang bahan bakar.