Banyak dari spesies ini sangat terancam, sehingga mereka mungkin tidak dapat bertahan hingga tahun 2050. Misalnya, 70 macan tutul Amur yang tersisa di alam liar dan lumba-lumba vaquita (Phocoena sinus), yang tersisa 10 ekor saja.
Ada banyak spesies yang kurang dikenal yang juga berisiko. Sebuah tinjauan tahun 2019 yang diterbitkan dalam jurnal Biological Conservation menemukan, lebih dari 40% spesies serangga yang ada di Bumi juga terancam punah.
Mereka adalah belalang berujung putih (Chorthippus acroleucus), jangkrik Semak Alpen Selatan (Anonconotus apenninigenus), kupu-kupu biru Swanepoel (Lepidochrysops swanepoeli), lebah Franklin (Bombus franklini), dan wereng bersayap Seychelles (Proocytettix fusiformis).
Menurut laporan tahun 2022 yang diterbitkan dalam jurnal Nature, dua dari lima amfibi (40,7%) kini terancam punah, sementara laporan tahun 2016 yang diterbitkan oleh jurnal Biology Letters menyatakan bahwa pada tahun 2050, 35% katak di Daerah Tropis Basah Queensland, Australia, juga terancam punah.
Rawlence menyatakan, praktik berbasis ekologi yang lebih berkelanjutan perlu diadopsi di seluruh dunia. Sehingga, dapat menjaga ekosistem penting dan memperlambat tren kepunahan massal pada hewan-hewan ini.
“Untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati yang tersisa, kita perlu tahu bagaimana merespons perubahan iklim dan dampak manusia di masa lalu dan sekarang, sehingga kita dapat memprediksi bagaimana responsnya di masa depan yang didukung oleh strategi pengelolaan konservasi berbasis bukti,” katanya.
(Ahmad Muhajir)