Sayangnya, menurut dia, banyak organisasi tidak memiliki anggaran untuk membayar tebusan dan memilih melakukan pemulihan.
Namun, masalah tidak berhenti sampai di sini, karena jika ransomware sudah ada sejak beberapa bulan sebelumnya dan ketika data bulan lalu di-restore, maka ransomware akan kembali aktif.
"Pada akhirnya, ada perusahaan yang membayar tebusan agar data pulih karena usaha restore tersebut gagal," imbuh dia.
Contoh lain adalah bagaimana data pengguna jaringan telepon (jenis perangkat, cara pembayaran, aplikasi yang ada di perangkat, dan lain sebagainya) memiliki potensi dibeli oleh perusahaan pinjaman online, di mana informasi tersebut dapat digunakan untuk menganalisis peringkat kredit seseorang atau suatu kelompok tertentu.
(Ahmad Muhajir)