Untuk mengungkap keberadaan jejak hewan tersebut, para peneliti menggunakan citra 3D guna mempelajari fosil rahang Nombe.
Analisis yang mereka peroleh menunjukkan, spesies tersebut berevolusi dari bentuk kanguru purba, yang menyebar ke New Guinea sekitar 5-8 juta tahun yang lalu.
Selama waktu itu, pulau New Guinea dan daratan Australia dihubungkan oleh jembatan darat, berkat permukaan laut yang lebih rendah.
Sebelum jembatan dibanjiri dan menjadi Selat Torres seperti sekarang ini, jembatan itu memungkinkan mamalia awal Australia untuk pindah ke New Guinea.
Menurut para peneliti, di sanalah hewan-hewan tersebut berevolusi agar sesuai dengan rumah tropis baru mereka.
Sementara beberapa penelitian dilakukan pada 1960-an, 70-an, dan 80-an, mempelajari megafauna punah ini. Tetapi selanjutnya tidak ada penggalian yang dilakukan di sana sejak awal 90-an.
Para peneliti sekarang berusaha untuk memperbaiki dan melanjutkan penemuan itu, dengan studi lebih lanjut di masa depan.
Profesor Gavin Prideaux, rekan penulis studi tersebut mengatakan, pihaknya akan melakukan tiga penggalian paleontologis di dua lokasi berbeda di PNG timur dan tengah selama tiga tahun ke depan.
“Kami akan bekerja dengan kurator Museum dan Galeri Seni Papua Nugini dan kontak lainnya di PNG, dengan siapa kami berharap dapat membangun minat lokal dalam paleontologi Papua,” katanya.
(Ahmad Muhajir)