JAKARTA- Fenomena Aphelion belakangan mencuri perhatian publik. Terlebih fenomena tersebut disebut akan membawa suhu dingin di Indonesia akibat posisi matahari sangat jauh dari bumi.
Tak sedikit yang merasa khawatir dan bertanya-tanya. Menanggapi hal tersebut, Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Herizal pun menjelaskan fenomena aphelion terjadi setahun sekali pada kisaran bulan Juli.
Dia juga mengungkapkan fenomena itu terjadi ketika posisi matahari berada pada titik jarak terjauh dari bumi. Meskipun demikian, kondisi tersebut tidak berpengaruh banyak pada fenomena atmosfer permukaan.
“Sementara itu, pada waktu yang sama, secara umum wilayah Indonesia berada pada periode musim kemarau. Hal ini menyebabkan seolah aphelion memiliki dampak yang ekstrem terhadap penurunan suhu di Indonesia,” kata Herizal.
Baca Juga:
- Ilmuwan Temukan Antibodi yang Diklaim Bisa Lawan Semua Varian Virus Corona
- Ini 4 Fenomena Astronomi yang Terjadi di Pekan Kedua Juli 2021
Menurutnya fenomena ini merupakan hal yang biasa terjadi setiap tahun. Bahkan hal ini pula yang nanti dapat menyebabkan beberapa tempat seperti di Dieng dan dataran tinggi atau wilayah pegunungan lainnya, berpotensi terjadi embun es (embun upas) yang dikira salju oleh sebagian orang.
Lebih lanjut dia menjelaskan, fenomena suhu udara dingin sebetulnya merupakan fenomena alamiah yang umum terjadi di bulan-bulan puncak musim kemarau (Juli - September). Saat ini wilayah Pulau Jawa hingga NTT menuju periode puncak musim kemarau. Periode ini ditandai pergerakan angin dari arah timur, yang berasal dari Benua Australia.