JAKARTA- Oximeter belakang dibutuhkan untuk membantu pasien Covid-19 mengukur saturasi oksigen. Di tengah tingginya permintaan, kini banyak bermunculan aplikasi pengukur kadar oksigen untuk ponsel.
Menanggapi hal tersebut, Pakar IT sekaligus dosen Institut Teknologi Bandung (ITB), Budi Rahardjo justru mewanti-wanti. Pasalnya dia menilai aplikasi oximeter yang beredar adalah aplikasi fake atau palsu yang hanya bertujuan untuk mencuri sidik jari pengguna.
Aplikasi tersebut akan meminta pengguna untuk menempelkan sidik jari ke handphone. Kemudian bukannya saturasi oksigen dapat terukur, tapi aplikasi malah mencuri identitas pengguna lewat sidik jari.
Baca Juga: Ahli Ungkap Aplikasi Tracing Harus Dilakukan Audit