JAKARTA - Sejak diluncurkan pada 1990, Hubble Space Telescope (HST) menghasilkan sederetan gambar yang mempesona dari luar angkasa. Tidak hanya gambar yang cantik, puluhan terabyte data yang dikumpulkan telah memberikan wawasan tentang alam semesta.
Mulai dari objek sedekat bulan hingga galaksi yang paling terpencil dan foto-foto luar biasa dari supernova serta nebula.
Dilansir dari laman Space, Senin (27/4/2020) Hubble merupakan teleskop pertama yang diluncurkan ke luar angkasa. Sebelum diluncurkan, pengamatan luar angkasa masih seadanya.
Para ilmuwan menempatkan teleskop di atas pegunungan, sayangnya gambar tampak tidak jelas karena atmosfer lebih tipis pada ketinggian yang lebih tinggi.
Pada tahun 1946 setelah Perang Dunia II, astronom Lyman Spitzer mengusulkan untuk meluncurkan teleskop ruang angkasa, yang dapat mengatasi keterbatasan observatorium berbasis darat. Butuh beberapa dekade lagi sebelum ide tersebut benar-benar berlaku.
National Academy of Science untuk mengorganisir sebuah komite ilmuwan untuk mengevaluasi potensi teleskop yang diluncurkan ke luar angkasa. Spitzer pun menjadi pemimpin panitia untuk mengeksplorasi ide tersebut pada tahun 1969.
National Academy of Science lalu bekerjasama dengan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) untuk membuat Teleskop Ruang Angkasa Besar menjadi kenyataan.
NASA sudah mempertimbangkan teleskop ruang angkasa dari beberapa jenis, tetapi mereka ragu-ragu tentang seberapa besar membuatnya dan dari mana harus memulai. Pada tahun 1971, George Low, pejabat administrator badan tersebut pada waktu itu, menghiasi Kelompok Pengarah Ilmu Angkasa Teleskop Besar dan NASA segera mulai melobi Kongres untuk pendanaan usaha tersebut.
Pendanaan pada awalnya ditolak oleh Subkomite House Appropriations pada tahun 1975. NASA kemudian meningkatkan upaya lobi mereka dan mendapat dukungan dari Badan Antariksa Eropa (ESA), yang berbagi biayanya. Kongres akhirnya memberikan dana untuk bagian NASA dari rencana Teleskop Ruang Angkasa Besar pada tahun 1977.