JAKARTA - Badan Ekonomi Kreatif berpendapat pengembang game Indonesia memiliki daya saing jika dibandingkan dengan pengembang asal luar negeri.
"Problemnya sekarang apa yang dihasilkan sekolah ada jarak dengan kebutuhan industri," kata Deputi Infrastuktur Bekraf Hari Sungkari saat di acara Bekraf Game Prime 2018, Sabtu.
Diwawancara terpisah, Hari menyatakan kontribusi pengembang lokal terhadap industri game Indonesia hanya 5 persen pada 2017, jumlahnya turun dari 2016 yang sebesar 9,5 persen. Hal ini terjadi karena ukuran pasar membesar, namun, jumlah pengembang tidak bertambah.
Pada acara yang sama, Ketua Asosiasi Game Indonesia Narenda Wicaksono menyatakan dari segi kualitas, pengembang lokal memiliki kemampuan yang baik untuk bersaing.
"Secara jumlah kurang. Kita harus melakukan sesuatu di situ, harus diperbanyak," kata Narenda.