JAKARTA - Wacana untuk mematikan jaringan 2G telah bergulir sejak Maret tahun ini. Namun hingga kini pembahasannya belum mencapai tahap final, alias masih dipertimbangkan baik oleh operator maupun pemerintah.
Menurut pengamat dan pemangku kepentingan di ekosistem teknologi, ada beberapa hal yang mestinya diperhatikan sebelum memutuskan untuk mematikan jaringan 2G.
Director of Marketing and Communication Erajaya, Djatmiko Wardoyo, mengatakan sebenarnya keberadaan jaringan 2G ini dibenci sekaligus disayang. Mengingat kontribusi pengguna jaringan 2G yang masih banyak maka jaringan ini layak untuk dipertahankan.
Dikatakan olehnya, penjualan perangkat yang mengandalkan jaringan 2G saat ini masih cukup banyak di Indonesia. Dalam sebulan, jumlahnya diperkirakan bisa mencapai 200 ribuan unit dari satu brand feature phone.
Sementara itu, para operator sendiri memang menginginkan adanya transisi pengguna jaringan 2G ke teknologi yang lebih baru seperti 4G. Alasannya adalah biaya operasional yang harus dikeluarkan untuk merawat jadingan 2G tergolong lebih besar dibandingkan 3G maupun 4G.
"Memang 2G ini dibenci sekaligus disayang. Saat ini kontribusinya masih banyak di Indonesia. Penjualan ponselnya saja bisa sampai dua ratusan ribu per bulannya, itu didominasi oleh satu merek," kata pria yang akrab disapa Koko tersebut, dalam acara diskusi di Jakarta, Kamis (14/9/2017).
Pada Juli 2017 dilaporkan, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara, mengisyaratkan kurang dari lima tahun tidak ada lagi 2G di Indonesia.
"Kalau lima tahun sudah enggak ada 2G di Indonesia lah. Karena apa? 2019 itu harga ponsel 4G yang buatan dalam negeri ada yang Rp400-an ribu, sudah murah. Jadi enggak ada lagi, dibandingkan antara ponsel 4G (smartphone 4G) dengan yang 2G sudah enggak ada artinya, kita bicara tahun 2019-2020," kata Rudiantara.
Ia mengatakan, daya beli masyarkat meningkat dan operator fokus pada teknologi 4G. Menurutnya, pemerintah akan memutuskan menghilangkan 2G karena biaya mengirimkan data pakai 2G lebih mahal daripada 4G.
"4G kan teknologi, tetapi habitnya sendiri, data. Voice Over LTE kan belum sempurna, kualitas belum sebaik yang model 2G, tapi sebentar lagi ya 2G akan hilang. Kita harus hilangkan karena biar bagaimanapun biaya untuk deliver data pakai 2G puluhan kali lebih mahal daripada 4G," jelasnya.
Lebih lanjut ia mengatakan, masyarakat sudah menuju pada penggunaan data. Seperti diketahui beberapa aplikasi sudah mendukung percakapan telefon melalui data.
(Ahmad Luthfi)