Risiko Alzheimer Bisa Terungkap Menggunakan Scan Otak

Fiddy Anggriawan , Jurnalis
Jum'at 02 September 2011 10:17 WIB
Hasil scan otak (sumber : Google)
Share :

MINNESOTA - Para peneliti Mayo Clinic di Rochester baru-baru ini menemukan bahwa dengan menganalisis data yang dikumpulkan dari scan otak, kemungkinan dapat mengidentifikasi seseorang yang terkena penyakit Alzheimer.
 
Ahli saraf dari tim penelitian ini mengemukakan teknik pencitraan medis yang disebut proton MR spektrokopi mampu memberikan semua data yang relevan kapada dokter, sehingga bisa digunakan untuk memprediksi pasien secara tepat di masa depan
 
Untuk mendapatkan hasil penelitian yang sesuai dengan harapan, peneliti melibatkan 311 orang guna mensurvei mereka. Rata-rata mereka semua berusia 70 hingga 80 tahun.
 
Dengan menggunakan metode baru, para ahli mencari biomarker (bahan kimia yang biasanya muncul dalam tubuh dan memperlihatkan tempat berkembangnya penyakit tertentu) guna mencari adanya gangguan kognitif di otak manusia.
 
Para ilmuwan memfokuskan penelitian pada serangkaian bahan kimia yang disebut metabolisme otak, yang diprediksikan menjadi biomarker Alzheimer. Dengan pelacakan konsentrasi senyawa ini, dokter dapat menilai perkembangan risiko seseorang yang mengalami demensia. Demikian seperti dilansir Softpedia, Jumat (2/9/2011).
 
Rincian penelitian baru ini telah dipublikasikan pada American Academy of Neurology (AAN). Untuk menunjang penelitian ini, tim juga menggunakan positron emission tomography (PET) untuk melakukan scan guna mencari plak saraf.
 
Struktur ini dikenal dengan protein amiloid yang menyebabkan kerusakan jaringan saraf otak dan menimbulkan gangguan kognitif pada pasien.
 
"Ada bukti bahwa peningkatan penyakit Alzheimer dikaitkan dengan perubahan di otak yang dimulai bertahun-tahun sebelum gejala kerusakan berkembang," ungkap Jonathan M. Schott, MD., peneliti dari Mayo Clinic.
 
"Jika kita dapat mengidentifikasi proses penyakit sejak awal atau sebelum berkembangnya gejala kerusakan kognitif, maka kita akan memiliki peluang untuk melakukan perawatan dan pencegahan. Sehingga dapat menunda kehilangan memori dan penurunan kognitif sejak awal, " tambahnya.
 
Tim juga menemukan bahwa proton MR spektroskopi bukan teknik yang secara akurat dapat digunakan untuk mendiagnosis pasien. Namun, hal ini menunjukkan potensi yang sangat besar untuk digunakan sebagai indikator awal pembentukan neurodegenerative demensia sebelum berkembang.

(Susetyo Dwi Prihadi)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Ototekno lainnya