JAKARTA – Pemerintah telah memberikan subsidi sebesar Rp10 juta untuk konversi dari motor BBM ke listrik. Namun, hingga kini, motor konversi tampaknya masih sepi peminat.
Sekretaris Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), Hari Budiyanto, mengungkapkan sejumlah faktor yang membuat motor konversi kurang diminati masyarakat.
“Kita harus pakai kacamata masyarakat kalau konversi itu tentunya ada motor yang dikonversi ada biaya, ada insentif. Pesaingnya apa? Ada motor listrik baru juga. Dapat subsidi, harganya murah juga,” kata Hari di Jakarta Selatan, dikutip Jumat (19/1/2024).
Sekadar informasi, mengonversi motor BBM ke listrik membutuhkan biaya Rp15-17 juta. Dengan subsidi Rp10 juta, sisa biaya untuk mengonversi motor listrik sebesar Rp5-7 juta.
Di sisi lain, saat ini ada produsen yang menjual motor listrik mulai dari Rp5 juta, sudah termasuk subsidi Rp7 juta dari pemerintah. Hal ini yang membuat motor konversi tak begitu populer di masyarakat Indonesia.
Hari menjelaskan, saat ini masyarakat yang melakukan konversi motor merupakan penghobi, bukan pengguna harian. Terlebih mesin lama dari motor tersebut wajib dihancurkan apabila ingin menggunakan subsidi Rp10 juta.
“Demandnya ini tergantung. Konversi ini masih banyak dilakukan oleh para hobbies, motornya antik. Tetapi, kalau motor dalam tanda petik yang dipakai harian segala macam, belum ada,” ujarnya.
“Mungkin ya, saya hanya memandang dari sisi masyarakat sendiri ‘oh mesinnya nanti di-scrap (dihancurkan)’ di situ masih ada. Biayanya masih mahal menurut saya meskipun sudah diinsentifkan, tapi prosesnya tidak mudah,” lanjutnya.