JAKARTA - Penggunaan motor listrik di Indonesia secara berlahan mulai tumbuh, meskipun berjalan lambat.
Sebagai catatan, ada sejumlah tantangan yang membuat masyarakat belum mau beralih ke motor listrik, salah satunya ada pada masalah baterai, dari harganya yang masih mahal hingga proses pengisian yang masih tergolong memakan waktu lama.
BACA JUGA:
Perosalan itu tidak hanya dikalangan masyarakat, CEO dan Founder motor listrik di Indonesia, juga memiliki pandangan yang berbeda-beda soal baterai.
Founder & CEO Tangkas Motor Listrik, Agung Pamungkas alias Don Papank, dalam keteranganya, dikutip Rabu (20/12/2023), menjelaskan saat ini ada perdebatan antara CEO motor listrik diantaranya terkait opsi pilihan baterai swab atau teknologi fast charging.
"Saya tetap pada pendirian bahwa masa depan motor listrik adalah fast charging bukan baterai swab, karena saya punya data masyarakat gak suka tuh untuk angkat-angkat baterai berat," kata Don Papank
BACA JUGA:
"Dan saya juga sudah prediksi baterai swab di station bisa hilang dicuri, Waktu itu debat. Ternyata sekarang prediksi saya benar," tegasnya.
Sebagai tambahan, menurut data Sistem Informasi Bantuan Pembelian Kendaraan Bermotor Roda Dua (SISAPIRa), Rabu (20/12/2023), motor listrik yang baru tersalurkan dari program subdisi pemerintah di 2023 baru 11.532.
Tentu dari total yang tersalurkan jauh dari target, yakni 200.000 unit pada tahun ini.
Dan untuk kuota bantuan potongan motor listrik sebesar Rp7 juta, kini ada sebanyak 592.878 untuk tahun depan. Dan sudah terdaftar 7129 peminat yang masuk proses pendaftaran.
(Imantoko Kurniadi)