JAKARTA – Neuralink, perusahaan implan otak milik Elon Musk mengumumkan telah menerima persetujuan Food and Drug Administration (FDA) untuk mulai melakukan penelitian pada manusia, sejak bulan Mei lalu. Perusahaan tersebut mengungkapkan mereka telah diberi lampu hijau oleh otoritas peninjau independen, untuk mulai mencari subjek uji coba manusia yang akan implan otaknya bagi pasien lumpuh.
Menurut sebuah postingan blog dari perusahaan neuroteknologi yang berbasis di California, tujuan utama dari uji coba pada manusia ini adalah untuk mengevaluasi keamanan dan keampuhan antarmuka otak-komputer (BCI), disebut juga dengan Link. Perusahaan ini dan BCI Neuralink sedang berupaya menciptakan perangkat implan yang memungkinkan orang mengontrol objek dengan pikiran mereka.

Mengutip dari Mashable, Rabu (20/9/23), “Tujuan awal dari BCI kami adalah untuk memberikan kemampuan kepada orang-orang untuk mengontrol kursor komputer atau keyboard menggunakan pikiran mereka sendiri,” jelas perusahaan dalam pengumumannya.
Elon Musk dan perusahaan belum melakukan ‘uji klinis pertama pada manusia’ telah mendapat kecaman atas cara mereka menangani subjek uji coba hewan. Hal ini membuat Komite Dokter untuk Pengobatan yang Bertanggung Jawab mengajukan keluhan pada Februari 2022. Mereka menuduh Neuralink melakukan percobaan otak yang invasif dan mematikan.
Pada bulan Desember di tahun yang sama, perusahaan itu diselidiki oleh pemerintah federal AS karena diduga melanggar aturan kesejahteraan hewan. Menurut catatan, perusahaan Neuralink diduga telah membunuh 1.500 hewan, termasuk babi, monyet, dan tikus, sejak tahun 2018.
Menanggapi tuduhan yang diberikan ke perusahaan, Neuralink mengklain bahwa tim mereka menghormati dan menghargai monyet kera rhesus yang berada di bawah perawatan mereka. Elon Musk selaku pemilik perusahaan ikut turun tangan melalui akun X nya pada Minggu (10/9/2023).
“Tidak ada monyet yang mati akibat implan Neuralink. Pertama kali pada implan awal kami, untuk meminimalkan risiko pada monyet yang sehat, kami memilih monyet yang sudah hampir mati,” bantah Elon Musk.