Society for Human Resource Management mengatakan bahwa isu itu bukan isapan jempol belaka. Saat ini 42 persen perusahaan besar di Amerika melakukan perekrutan karyawan dengan menggunakan AI. Mereka menggunakan kecerdasan buatan seperti HireVue, Harver, hingga Prem.
Tidak hanya untuk penyaringan, beberapa perusahaan bahkan tetap menggunakan teknologi AI di semua tahapan lamaran kerja. Jadi begitu berhasil lolos penyaringan, para pelamar kerja akan melakukan sesi wawancara yang direkam melalui video. Hasil rekaman itu kemudian akan dianalisa lagi secara mendalam dengan teknologi AI.
"Pelamar difilmkan menjawab serangkaian pertanyaan sementara sebuah program atau robot menganalisis ucapan dan ekspresi wajah mereka," sebut Society for Human Resource Management.
Penggunaan teknologi itu sendiri semakin memperburuk hubungan teknologi AI dengan manusia. Tidak hanya bikin manusia sulit dapat pekerjaan, teknologi AI juga bisa menggantikan manusia dalam bekerja.
Hal itu didasarkan temuan Goldman Sachs baru-baru ini memperkirakan 300 juta pekerjaan di Amerika Serikat dan Eropa dapat digantikan oleh AI.
(Martin Bagya Kertiyasa)