Dia juga mengatakan, setiap jenis awan memiliki berat yang berbeda. Awan cirrus misalnya, memiliki bobot yang lebih ringan karena mengandung air yang lebih sedikit. Sementara itu awan cumulonimbus punya berat yang lebih besar.
Melihat hasil temuan LeMone, seorang Ahli Hidrologi University of Arizona, Armin Sorooshian, menyebut bahwa berat awan 550 ton itu setara dengan 100 ekor gajah yang digantung di atas kepala manusia.
Dia juga mengatakan bahwa volume awan bukan hanya tetesan air, tapi ada udara di dalamnya. Setiap tetesan itu punya berat udara yang membuatnya semakin berat.
Lantas muncul pertanyaan, jika memang awan memiliki bobot yang besar, mengapa mereka tidak bisa jatuh ke Bumi. Alasan yang paling umum, kata LeMone, tetesan dalam awan terlalu kecil sehingga tidak bisa jatuh dalam waktu yang cepat.
Tetesan air di awan memiliki ukuran 1 juta kali lebih kecil dibanding air hujan. Angin di ketinggian tertentu juga meniup partikel air sehingga menahannya di udara lebih lama.
Awan baru dapat dikatakan jatuh dalam bentuk hujan. Tetesan air di awan menyatu dan mendingin menjadi lebih besar. Dengan ukurannya ini otomatis partikel air semakin berat. Inilah yang akhirnya turun ke Bumi.
(Kemas Irawan Nurrachman)