SEIRING berkembangnya teknologi, maka semakin mempermudah kita dalam melakukan segala kegiatan. Tapi, seiring dengan itu banyak juga data pribadi yang berseliweran di internet.
Perusahaan keamanan siber Kaspersky mencatat, setidaknya ada 11.294 kasus infeksi malware yang terdeteksi di Indonesia selama tahun 2022 lalu dengan korban mencapai 1279 orang. Apesnya lagi ribuan malware ini hadir di game populer seperti Roblox, Minecraft, Fortnite, Apex Legends, dan sebagainya.
Berdasarkan siaran pers yang diterima, malware-malware ini berpotensi berbahaya bagi anak-anak di usia muda. Kaspersky menyebut, ancaman yang disebarkan oleh penjahat dunia maya ini kemungkinan besar ditujukan untuk mendapatkan data kartu kredit dan kredensial orang tua. Adapun skema yang digunakan para penjahat adalah teknik rekayasa sosial.
"Mereka memberikan penawaran untuk mengunduh cheat dan mod populer untuk game kepada para pemain muda. Di situs phishing, pengguna akan diyakinkan dengan cara diberikan panduan lengkap tentang cara memasang cheat dengan benar," tulis laporan tersebut.

Ini mungkin tidak mencurigakan bagi pemain muda, tetapi mungkin dibuat khusus sehingga malware dapat menghindari deteksi pada perangkat yang terinfeksi yang bisa menyedot banyak informasi dari komputer korban.
“Pada tahun 2022, penjahat dunia maya bahkan mengeksploitasi game yang dirancang untuk anak berusia 3-8 tahun. Ini menyoroti konklusi bahwa para penjahat dunia maya tidak memfilter target mereka berdasarkan usia dan bahkan menyerang gamer termuda," kata Vasily M. Kolesnikov, pakar keamanan di Kaspersky.
"Mereka menganggap anak-anak dan remaja memiliki sedikit atau bahkan tidak sama sekali pengalaman atau pengetahuan tentang jebakan penjahat dunia maya dan akan dengan mudah tertipu bahkan dengan skenario yang paling primitif sekalipun," lanjutnya.
Kolesnikov menyarankan, orang tua harus lebih berhati-hati tentang aplikasi apa yang diunduh anak, apakah perangkat mereka telah menginstal solusi keamanan tepercaya dan harus mengajari anak mereka tentang cara berperilaku online.
Ia juga memberikan tips agar anak tetap aman saat online dengan langkah sebagai berikut:
- Cobalah untuk menunjukkan ketertarikan pada aktivitas online anak Anda. Tanyakan apakah Anda dapat menonton serial favoritnya atau mendengarkan trek musik bersama. Sebagai opsi, Anda dapat mempelajari bersama beberapa praktik aman agar tetap aman saat online.
- Pilihan yang bagus bisa berupa aplikasi kontrol orang tua. Namun, penting untuk mendiskusikan topik ini dengan anak Anda sambal menjelaskan cara kerja aplikasi ini dan mengapa diperlukan agar tetap aman saat online
- Jelaskan bahwa informasi sensitif hanya boleh dibagikan melalui messenger dan hanya dengan orang yang mereka kenal di kehidupan nyata. Anda bisa menjadi panutan dan menunjukkan kepada mereka contoh perilaku yang baik.
- Habiskan lebih banyak waktu untuk berkomunikasi dengan anak Anda tentang tindakan keamanan online. Coba perhatikan kebiasaan sendiri. Apakah Anda menggunakan ponsel cerdas sambil makan atau berbicara? Apakah anak-anak meniru kebiasaan atau pola perilaku Anda? Apakah mereka bereaksi dengan cara yang berbeda saat Anda menyimpan ponsel?
- Jadikan pembicaraan tentang keamanan dunia maya lebih menyenangkan dan menarik dengan mendiskusikannya bersama anak Anda melalui permainan dan format hiburan lainnya.
(Martin Bagya Kertiyasa)