Hasil studi tersebut dianggap belum dapat membandingkan antara mobil listrik dan BBM karena masih banyak produsen mobil listrik sedang mengembangkan produk elektriknya agar mendapat hasil yang lebih hemat.
“Meningkatnya harga bahan bakar membuat EV terlihat seperti barang yang sangat menggiurkan selama 2021 dan 2022. Dengan harga listrik naik dan harga bensin turun, pengemudi kendaraan ICE menghemat sedikit uang pada kuartal terakhir tahun 2022,” kata perwakilan AEG Patrick Anderson, dikutip dari Carbuzz.
Agar dapat mendapat hasil yang presisi, AEG turut menjadikan cost BBM, pajak, biaya operasi pompa BBM dan SPBU menjadi variable yang mempengaruhi.
Selain itu, faktor mobil listrik yang menjadi masalah bagi motor listrik adalah karena masih dalam tahap memperbanyak infrastruktur. Sehingga muncul masalah mengantre di stasiun pengisian daya.
AEG menilai, banyaknya variabel ini harus dihitung sebelum mengklaim pengisian daya mobil listrik lebih mahal dibanding BBM.
(Citra Dara Vresti Trisna)