Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ledakan Matahari Hantam Bumi, Jaringan Radio 2 Negara Ini Mati

Tangguh Yudha , Jurnalis-Rabu, 09 November 2022 |11:43 WIB
Ledakan Matahari Hantam Bumi, Jaringan Radio 2 Negara Ini Mati
Ledakan Matahari hantam Bumi, jaringan radio 2 negara ini mati (Foto: ESA)
A
A
A

JAKARTA - Suar Matahari yang mengejutkan telah meledak dari area magnetisme padat di permukaannya, menyebabkan pemadaman radio sementara di beberapa bagian Australia dan seluruh Selandia Baru.

Suar matahari berkekuatan sedang kelas M5 direkam oleh Solar Dynamics Observatory NASA saat meletus dari bintik Matahari AR3141 pada pukul 07.11 WIB, Minggu (6/11/2022) kemarin.

Dilansir dari Live Science, Rabu (9/11/2022), suar tersebut dilaporkan telah menciptakan gelombang radiasi yang mampu mengionisasi atmosfer Bumi.

Bintik matahari adalah daerah gelap di permukaannya, di mana medan magnet yang kuat, yang diciptakan oleh aliran muatan listrik, mengikat menjadi kusut sebelum tiba-tiba patah.

Pelepasan energi yang dihasilkan meluncurkan semburan radiasi yang disebut suar Matahari dan pancaran bahan surya yang disebut coronal mass ejections (CMEs). CME memang menyertai suar ini, tetapi tidak ditujukan ke Bumi.

Suar Matahari meletus secara tidak terduga dan mengejutkan para ilmuwan. Mereka pun meminta maaf karena tidak bisa mendeteksi ledakan ini sehingga tidak ada alarm peringatan yang diberikan.

Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA) mengklasifikasikan ledakan api Matahari dalam lima kategori, yaitu A, B, C M dan X berdasarkan intensitas sinar-X yang mereka keluarkan, dengan setiap tingkat memiliki 10 kali intensitas terakhir.

Begitu mereka mencapai Bumi, sinar-X dan radiasi ultraviolet yang dihasilkan oleh semburan Matahari mengionisasi atom di atmosfer, sehingga mustahil untuk memantulkan gelombang radio frekuensi tinggi dari mereka dan menciptakan pemadaman radio.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita ototekno lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement