BANYAK pihak yang menyebut bahwa mobil listrik jauh lebih baik dibanding mobil yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM). Salah satu yang selalu di-highlight adalah mobil listrik sama sekali tidak menghasilkan emisi gas buang.
Namun perlu diketahui, bahwa hal ini tidak menjadikan mobil listrik sepenuhnya ramah lingkungan. Kasubdit Pengendalian Pencemaran Udara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ratna Kartikasari mengatakan, terdapat masalah lingkungan lain yang menanti di tengah maraknya kendaraan listrik.
Dalam paparannya, Ratna menjelaskan, sumber listrik dari pembangkit listrik thermal untuk charging baterai berpotensi menghasilkan emisi dari bahan bakar fosil. Menurutnya, jika pembangkit listrik masih mengandalkan batu bara, itu sama saja.

"Jadi hanya memindahkan masalah saja. Di perkotaan masalah beres tapi di daerah pinggiran masih akan tetap menghasilkan emisi," kata Ratna seperti dikutip dalam sebuah tayangan di kanal YouTube InfoKPBB.
Selain di pembangkit listrik, potensi masalah lingkungan lain juga ada di proses pembuatan baterai kendaraan listrik. Ratna menyebut, penambangan logam dan mineral dapat menimbulkan kerusakan serta pencemaran lingkungan.
Ia juga menjelaskan bahwa saat baterai nantinya didaur ulang sekalipun, masih berpotensi menghasilkan air limbah dan emisi. Pasalnya, baterai lithium terdiri dari casing, anoda, katoda, separator, elektrolit dan komponen beracun lainnya.