Sementara itu, beberapa hari lalu fenomena angin kencang juga terjadi di sekitar wilayah Banten dan Jabodetabek. Guswanto mengatakan kondisi tersebut, disertai juga dengan hujan intensitas yang beragam mulai dari ringan hingga lebat dalam durasi singkat, serta menimbulkan kerusakan pada beberapa fasilitas masyarakat.
Berdasarkan pantauan citra radar dan citra satelit, kejadian angin kencang di wilayah Jabodetabek dipicu oleh adanya sistem awan konvektif jenis Cumulonimbus (Cb) yang bergerak dari wilayah barat Banten ke arah timur menuju wilayah Jabodetabek.
Dimensi sistem awannya sendiri, cukup memanjang dari utara ke selatan sehingga menimbulkan hembusan angin yang terbilang kencang di wilayah Banten dan Jabodetabek.
“Berdasarkan data BMKG, kecepatan angin yang terukur cukup beragam dengan kisaran rata-rata lebih dari 30 km/jam," ungkapnya.
Namun, sambungnya, di beberapa lokasi angin kencang yang terukur ada yang mencapai lebih dari 50 km/jam, terjadi sekitar pukul 12.00-13.00 WIB, seperti di Tangerang Selatan (57 km/jam) dan Cengkareng (52 km/jam).
Terkait dengan potensi angin kencang tersebut, BMKG menghimbau supaya menghindari kegiatan pelayaran di wilayah perairan dengan kondisi gelombang tinggi.
Kemudian, mewaspadai potensi dampak seperti gelombang tinggi dan kerusakan infrastruktur terutama di daerah yang rentan.
(Ahmad Muhajir)