Hal inilah yang membuat Matahari mencapai titik tertinggi di atas ufuk pada pukul 12.00 menurut waktu sejati. Akan tetapi, deklinasi Matahari bervariasi dalam satu satu, anatar -23,4 derajat hingga +23,4 derajat
Baca Juga: Mulai Besok Penduduk Bumi Bisa Lihat Planet Venus Secara Langsung
Andi menambahkan, fenomena ini juga terjadi saat soltis Juni, dimana ketika ketika Matahari berada paling Utara saat tengah hari yang terjadi setiap tanggal 20/21 Juni setiap tahunnya. Sedangkan sumbu rotasi Bumi di belahan selatan dan kutup selatan miring menjauhi Matahari. Dengan demikian, lanjut Andi Matahari terlihat lebih lambat terbenamnya dari biasanya di waktu normal.
Catata kedua adalah, terjadi disaat solstis Desember, dimana Matahari berada di paling selatan saat tengah hari yang terjadi pada bulan Desember setiap tahunnya. Dua catatan itulah yang menjadi penyebab kombinasi waktu matahari terbenam menjadi lebih lambat, yang akan terjadi di Indonesia pada akhir bulan januari 2022. Menurut catatan tidak semua wilayah, hanya sebagian saja, seperti Jawa, Bali dan Nusa Tenggara.
(Amril Amarullah (Okezone))