Namun, saat ini Zuckerberg lebih kritis pada hal-hal tertentu. Terutama dalam hal kebijakan perusahaan terkait Public Relation. Lebih spesifik lagi terkait kasus campur tangan Facebook di Pemilu AS dan skandal Cambridge Analytica.
Tentu saja, juru bicara Facebook Dani Lever dengan tegas menolak klaim yang dibuat dalam buku tersebut. ”Narasi seperti itu palsu, karena hanya berdasarkan wawancara selektif. Wawancara dari individu-individu yang tidak puas. Juga fakta-fakta yang sengaja dipisahkan,” katanya.
”Garis batas yang digambarkan penulis antara Mark dan Sheryl dan orang-orang yang bekerja dengan mereka tidak ada,” kata Lever. ”Semua bawahan langsung melapor ke Mark dan diawasi oleh Sheryl. Peran Sheryl di perusahaan tidak berubah,” tambahnya.
Beberapa fakta yang disoroti buku tersebut adalah konflik antara Sandberg dan Zuckerberg di beberapa hal. Zuckerberg mempercayakan kebijakan politik Facebook ke Sandberg karena pengalamannya di Washington. Namun, Sandberg ternyata termasuk pihak yang tidak suka dengan Donald Trump. Nah, Zuckerberg menganggap banyak keputusan Sandberg tidak sesuai dengannya. Sehingga kemudian ia memutuskan sendiri arah kebijakan politik Facebook tanpa memperdulikan Sandberg.
Misalnya ada video tertentu yang menurut Sandberg layak untuk dihapus karena menganggap peraturan Facebook. Namun, Zuckerberg tetap memilih membiarkannya.
(Pernita Hestin Untari)