"Dana sebesar itu, sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia, di mana satelit itu memiliki kapasitas 150 gigabita perdetik dan kapasitas enam kali lipat dari satelit yang sudah ada di Indonesia," jelasnya.
Dengan kapasitas yang besar Menteri Johnny menargetkan bisa membantu kantor pemerintah dan wilayah yang keberadaan sinyal sulit. "Satelit ini, akan digunakan untuk wilayah blankspot di Indonesia," tandasnya.
Meski ada kendala soal pendanaan atau finansial closing pembuatan satelit Satria, Menteri Kominfo tetap optimistis bisa menyelesaikan tahapan financial closing bersama kedua lembaga yang dilibatkan dalam pembuatan satelit itu.
"Melibatkan dua negara yaitu BPI dari Prancis dan Asian Infrastructure Investment dari Tiongkok yang ikut dalam pembiayaan Satria. Kami mengalami kendala karena mulai malam ini juga pintu komunikasi transportasi dengan Tiongkok akan ditutup karena virus corona," ungkap Menteri Johnny.
(Ahmad Luthfi)