Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cahyo Rahmadi menyatakan satwa liar yang secara alami dapat menyeberang lintas negara maupun dibawa dan dimanfaatkan manusia untuk tujuan tertentu perlu menjadi fokus mitigasi (upaya untuk mengurangi dampak bencana) antisipasi zoonosis (penyakit yang dapat ditularkan dari satwa liar ke manusia).
“Hewan yang dominan berpotensi membawa penyakit adalah tikus, kelelawar, celurut, karnivora dan kelompok primata seperti monyet,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (27/01/2020).
Peneliti satwa liar dari Pusat Penelitian Biologi LIPI Taufiq P Nugraha sependapat dengan Cahyo. Menurtnya, para ilmuwan bahkan menduga kemunculan penyakit zoonosis baru (new emerging infectious diseases) seperti kasus 2019-nCoV merupakan hasil tingginya frekuensi interaksi antara satwa liar dengan manusia.
“Jika berkaca pada kasus ebola di Afrika, deforestasi untuk pertanian dapat berperan dalam ekspansi kelelawar di luar habitatnya dan ekspansi manusia ke dalam habitat kelelawar. Sehingga keduanya dapat saling berinteraksi bebas dan berisiko tinggi dalam penyebaran penyakit baru,” paparnya.
Dalam kasus 2019-nCoV, Taufiq menyebutkan kemungkinan orang yang berinteraksi langsung di pasar hewan di Wuhan, Tiongkok adalah yang pertama terkena penyakit infeksi tersebut.
“Interaksi langsung tersebut dapat melalui makanan maupun dalam proses pengolahan hewannya, baik hewan perantara maupun yang merupakan perantara alaminya,”ujar Taufiq.
Virus Korona (Coronavirus) merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit ringan seperti pilek dan penyakit yang serius seperti MERS dan SARS. Virus ini merupakan single stranded RNA (ssRNA) virus yang umum ditemukan pada berbagai hewan yang berkeliaran di atas tanah seperti mamalia, burung dan reptil.(Gabriel Abdi Susanto)