Contohnya Gerhana Matahari Total (GMT) yang pernah terjadi pada 9 Maret 2016 yang hanya melintas dan dapat dilihat di Palembang, Bangka, Belitung, Sampit, Palangkaraya, Balikpapan, Palu, Poso, Luwuk, Ternate, Halmahera.
Untuk GMC sendiri sambungnya, terjadi ketika bulan berada segaris dengan bumi dan matahari, namun piringan bulan lebih kecil dari piringan matahari sehingga piringan matahari tidak tertutup dengan sempurna.
"Hal inilah yang menyebabkan tampak seperti cincin, yaitu gelap di bagian tengah dan terang di bagian pinggirnya," katanya.

Sri mengatakan fenomena GMC ini hanya melewati sebagian wilayah Indonesia seperti, Padang Sidempuan, Duri, Batam, Siak, Karimunbesar, Tanjung Batu, Bintan, Tanjung Pinang, Singkawang, Pemangkas dan Sambas.
Sementara wilayah lainnya hanya sebagian atau tidak utuh membentuk cincin, salah satunya di Jakarta. "Di Jakarta piringan matahari mencapai 72 persen dengan puncak gerhana yang terjadi sekitar pukul 12.36 WIB," terangnya.
Sri menambahkan, pengamatan gerhana sendiri tidak disarankan untuk melihat langsung dengan mata telanjang, melainkan diperlukan alat bantu agar bisa melihat fenomena alam tersebut dengan baik.
(Ahmad Luthfi)