"Kelompok tanaman ini pasti mampu bertahan dan berkembang di berbagai lingkungan. Sangat jarang, bahkan sampai hari ini, agar sebuah kelompok muncul di hampir seluruh belahan dunia," lanjut Gulbranson.
Sebagai informasi, Antartika adalah tempat yang jauh lebih hangat dan lembab karena periode Permian telah berakhir. Selama masa ini, benua dunia dan yang tersebar di seluruh Bumi, malah digabungkan bersama-sama, sebagai bagian dari dua daratan besar. Antartika merupakan bagian dari southern supercontinent Gondwana, yang juga termasuk Amerika Selatan, Afrika, India, Australia, dan Jazirah Arab saat ini.
Menurut para peneliti, fosil hutan Antartika tampak berbeda dari hutan lintang tinggi saat ini. Selama periode Permian, hutan tersebut memiliki keanekaragaman tanaman yang lebih rendah. Hutan memiliki kelompok tanaman dengan fungsi spesifik yang mempengaruhi bagaimana seluruh hutan merespons perubahan lingkungan.
Periset berharap fosil hutan juga bisa mengungkapkan lebih banyak tentang apa yang menyebabkan kepunahan massal pada akhir periode Permian dan bagaimana perubahan iklim dapat mempengaruhi kehidupan.
"Hutan ini adalah sekilas kehidupan sebelum kepunahan, yang bisa membantu kita memahami apa yang menyebabkan kejadian tersebut. Catatan geologi menunjukkan kepada kita awal, tengah dan akhir dari peristiwa perubahan iklim. Dengan studi lebih lanjut, kita dapat lebih memahami bagaimana gas rumah kaca dan perubahan iklim mempengaruhi kehidupan di Bumi,” tutup Gulbranson.
(Kemas Irawan Nurrachman)