Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ada Keunikan dalam Memproduksi Mobil Hybrid, Apa Itu?

Santo Evren Sirait , Jurnalis-Kamis, 31 Agustus 2017 |09:28 WIB
Ada Keunikan dalam Memproduksi Mobil <i>Hybrid</i>, Apa Itu?
Ilustrasi pabrik mobil (Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Mobil berteknologi hybrid diprediksi akan menjadi awal dimulainya program baru pemerintah yaitu low carbon emission vehicle (LCEV). Pasalnya mobil hybrid tidak membutuhkan infrastruktur khusus karena sudah dibekali oleh dua sistem penggerak, yakni mesin konvensional dan motor listrik. Beda halnya dengan mobil full electric yang membutuhkan infrastruktur khusus stasiun pengisian baterai.

Jika program LCEV sudah diterbitkan, produsen mobil di Tanah Air dituntut kesiapannya untuk memproduksi mobil berteknologi hybrid secara lokal. Dengan begitu unsur kandungan lokal di mobil akan tinggi dan efeknya harga jual mobil semakin terjangkau.

(Baca juga: Soal Mobil Listrik, Toyota Indonesia: Teknologi Sudah Ada, Tinggal Pasarnya)

"Satu hal yang paling penting adalah hybrid itu punya beberapa spesifikasi unik kalau dibandingkan dengan mobil bermesin konvensional. Jadi dari segi industri tidak cukup hanya melokalkan industri kendaraannya sendiri tapi keseimbangan untuk melokalkan komponen khusus untuk hybrid. Karena teknologi yang ada di hybrid beda dengan yang di mesin konvensional. Kalau kendaraan mesin konvensional satu dengan yang lain mungkin sama. Mungkin juga ada beberapa komponen mesin konvensional sama dengan hybrid, seperti resin dan lain-lain. Hanya, bagian-bagian komponen hybrid-nya yang jadi hal penting," ujar Warih Andang Tjahjono, presiden direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), belum lama ini.

Selain melokalkan komponen, lanjut Warih, ada hal lain yang tak kalah penting yaitu adanya kebijakan soal insentif komponen yang diimpor. "Supaya industri komponen hybrid bisa kita kelola di negeri ini," tambahnya.

Sementara itu soal kesiapan TMMIN untuk menproduksi mobil hybrid, Warih mengatakan bahwa pihaknya siap untuk memproduksi mobil-mobil ramah lingkungan.

"Kami siaplah full efficient vehicle. Harus terjadilah," cetusnya.

(Baca juga: Jalan Macet, Kemenperin: Tidak Ada Hubungannya dengan Industri Automotif)

Untuk mulai memproduksi mobil ramah lingkungan perlu tahapan-tahapan khusus. Sambil menunggu alat-alat yang dibutuhkan untuk produksi, pihaknya akan mendatangkan mobil hybrid atau listrik dalam bentuk utuh atau CBU terlebih dulu.

"Itu kan ada stamping ya. Tapi stamping itu harus ada persiapan, supply chain harus ada yang siapin dulu. Kemungkinan awal CBU dulu lalu CKD, begitulah kira-kira," pungkas Warih. (san)

(Anton Suhartono)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita ototekno lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement