JAKARTA – Google tak segan-segan memberikan peringatan dan menonaktifkan iklan pada video di YouTube yang menurutnya di luar batas termasuk konten yang menyinggung.
YouTube tidak menghapus video yang dipilih, tetapi malah menetapkan batasan baru untuk melihat, berbagi, dan menghasilkan uang darinya.
Sebuah catatan yang merinci perubahan akan diajukan ke produsen video yang terkena dampak pada Kamis 24 Agustus, menurut juru bicara perusahaan Alphabet Inc.
Google tengah menggarisbawahi langkah-langkah ini di bulan Juni, pelaksanaannya muncul karena perdebatan dengan ekstremisme dan pidato politik terdepan juga dalam sorotan nasional, dan ketika raksasa teknologi seperti Google dan Facebook Inc menghadapi pemeriksaan yang lebih dalam mengenai bagaimana mereka memoderati informasi yang didistribusikan melalui platform mereka.
“Video-video ini kurang memiliki keterlibatan dan sulit ditemukan. Ini menyerang keseimbangan yang tepat antara kebebasan berekspresi dan akses terhadap informasi tanpa mempromosikan sudut pandang yang sangat ofensif,” kata Kent Walker selaku penasihat umum Google dalam sebuah posting-an blog.
YouTube mengatakan bahwa video tersebut diunggah lebih dari 400 jam. Video yang diberi tag oleh kebijakan barunya tersebut tidak akan dapat menjalankan iklan atau memasang komentar, juga tidak akan muncul dalam daftar yang disarankan di situs web eksternal.
“YouTube akan membiarkan pencipta video untuk mengikuti pembatasan melalui proses banding,” kata juru bicara Youtube.
Diketahui, layanan video terbesar di dunia itu telah mengubah kebijakannya beberapa kali pada tahun ini. Pada Maret, Google memperkenalkan perangkat lunak dan star baru untuk memantau video, setelah sejumlah pemasar berjanji untuk menarik pengeluaran Youtube, karena kekhawatiran iklan mereka berjalan bersamaan dengan konten ekstrem.
Pada bulan berikutnya, Google juga menambahkan fitur baru untuk membatasi iklan Youtube. Para eksekutif mengklaim bahwa jumlah video yang terkena dampak hanya sedikit, namun mereka menekankan bahwa baik manusia maupun sistem kecerdasan buatan tidak dapat memastikan YouTube sepenuhnya dapat terbebas dari video kontroversial.
Awal bulan ini, YouTube juga mengatakan bahwa lebih dari 75% video dihapus karena melanggar kebijakannya ditandai oleh perangkat lunak barunya sebelum intervensi manusia.
Dengan kebijakan terbaru, YouTube menargetkan konten pada batas yang lebih sulit, seperti video yang mendukung teori penyangkalan Holocaust dan klip dari supermasi kulit putih David Duke. Demikian dilansir dari The Independent, Jumat (25/8/2017).
(Kemas Irawan Nurrachman)