JAKARTA - Pasar mobil MPV premium dan low sedan terbilang sangat kecil di Indonesia. Pemain MPV premium didominasi merek Jepang, yakni Toyota yang memasarkan Alphard, Honda dengan Odyssey-nya, serta Nissan menjual Elgrand. Sementara low sedan di antaranya diisi oleh Honda City dan Toyota Vios.
Jonfis Fandy, marketing & aftersales service director PT Honda Prospect Motor (HPM), mengakui hal tersebut. Namun ia menilai peminat dari kedua segmen tersebut masih tetap ada. (Baca: Setelah Honda Mobilio, Giliran Odyssey dan City yang Berdandan)
"MPV karena secara sejarahnya dulu diproteksi habis-habisan, yaitu dari segi pajaknya. Sehingga kebiasaan konsumen sudah merata bahwa perlu 7-seater walaupun terkadang di kabin hanya satu penumpang. Kalau sedan yang beli ada, biarpun pajak tinggi, kalau konsumen sudah suka pasti dibeli," terang Jonfis, di Jakarta, Kamis (16/3/2017).
Atas dasar itu, Jonfis mengatakan pihaknya tidak menjadikan kedua model terbaru tersebut sebagai volume maker.
"MPV premium kelas yang bukan volume maker. Cuma, Odyssey ini perlu sebagai salah satu mobil untuk upgrade. Kenapa Odyssey kami luncurkan walaupun volume-nya kecil, ini penting karena segmen ini banyak orang yang pikir beli yang besar lebih prestis. Kalau sedan memang segitu, enggak bisa tumbuh besar karena ada faktor-faktor tertentu yang membuatnya enggak bisa tumbuh," jelas dia.
Sementara itu, terkait target penjualan, Honda mematok 300 unit Odyssey dan 1.100 untuk City sepanjang 2017. Angka tersebut menurut Jonfis sangat realistis mengingat kondisi pasarnya kecil.
"Kami bukan Dewa. Terus terang hitungan kami mungkin tidak terlalu detail karena kami harus ada target per tahun. Tapi saat berjalan bulan ke bulan bisa terjadi perubahan tren market, kami lihat itu. Kalau bisa sesuai target berarti bagus. Kalau tidak, harus berubah cepat. Kalau tidak perusahaan akan bermasalah," pungkas dia.
(Dian AF)