JAKARTA - 2016 merupakan tahun yang sulit untuk menjual kendaraan komersial. Hal itu dikarenakan kondisi ekonomi di Tanah Air sedang lesu dan sepinya proyek pembanguna. Kondisi itu diperparah dengan banyaknya perusahaan pembiayaan atau leasing yang menolak pengajuan pembiayaan untuk kendaraan komersial.
Menurut Duljatmono, director of MFTBC marketing division PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB), sekira 95 persen kendaraan komersial dibeli secara kredit. Karena itu, tidak adanya dukungan dari leasing turut menurunkan permintaan kendaraan.
"Kendaraan automotif sangat bergantung pada kredit oleh lembaga-lembaga keuangan atau leasing. Tahun lalu cukup berat karena rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) cukup tinggi, sehingga leasing sangat berhati-hati dalam memberikan dukungan pembiayaan," terang Duljatmono, Jumat 10 Februari 2017, di Jakarta.
Kehati-hatian leasing, lanjut dia, bukan tanpa sebab. Proyek pembangunan infrastruktur yang terbilang sepi bisa berimbas pada pembayaran cicilan dari konsumen ke leasing.
"Yang membuat khawatir itu kalau infrastruktur seret ya kreditnya juga seret. Itu yang membuat mereka sangat hati-hati memberikan kredit kepada konsumen-konsumen kendaraan niaga," terangnya.
Pria yang akrab disapa Momon ini menambahkan, untungnya pada semester kedua 2016 kondisi perekonomian sedikit membaik. Berbagai proyek pembangunan, salah satunya jalan tol mulai berjalan, sehingga hal tersebut sedikit memberikan angin segar terhadap pasar kendaraan komersial.
"Di akhir kuartal keempat sudah mulai membaik, sehingga sudah ada dari leasing yang mulai memberi dukungan untuk pembiayaan," imbuhnya.
Tahun ini diharapkan kondisi perekonomian semakin membaik dan leasing memberikan kemudahan bagi konsumen.
"Mudah-mudahan NPL-nya tidak naik lagi. Harapannya di 2017 lembaga-lembaga keungan bisa lebih memberikan dukungan kepada sektor automotif khsusunya di kendaraan niaga untuk lebih bertumbuh," ujar Duljatmono. (san)
(Anton Suhartono)