Di dunia barat, barisan ini pertama kali dipelajari oleh Leonardo da Pisa, yang juga dikenal sebagai Fibonacci (sekitar 1200), ketika membahas pertumbuhan ideal dari populasi kelinci.
Bilangan Fibonacci memiliki rumus dengan deretan angka 0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, 89, 144, 233, 377, 610, 987, 1597, 2584, 4181, 6765, 10946, dan seterusnya.
Sehingga, jika merujuk pada bilangan tersebut terdapat beberapa benda yang memiliki keteraturan yang sama. Contohnya, ruas jari manusia.
Pada satu tangan, terdapat 2 ruas jari jempol, 3 ruas jari lainnya, yang terdiri dari 5 jari. Hal itu tampak bersesuaian dengan bilangan Fibonacci yakni 2,3, dan 5.
Dengan demikian, segala keteraturan yang ada di alam semesta ini, sebenarnya telah tercantum di dalam Alquran. Selain memberikan makna keseimbangan, pola atau bentuk keteraturan, juga memberikan efek artistik dari segi visual.
(Kemas Irawan Nurrachman)