Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Wartel, Riwayatmu Kini

Aditya Gema Pratomo , Jurnalis-Senin, 11 Januari 2016 |17:30 WIB
Wartel, Riwayatmu Kini
Wartel, Riwayatmu Kini ( foto : Aditya Gema )
A
A
A

JAKARTA - Sebelum maraknya penggunaan smartphone seperti sekarang ini, sebagian besar masyarakat masih mengandalkan warung telefon (Wartel) untuk berkomunikasi.

Di medio 2000-an, Wartel dapat dengan mudah kita temui di setiap sudut kota. Warung yang menyediakan layanan panggilan jarak jauh itu menjadi tulang punggung perekonomian warga kala itu.

Konsumennya bermacam-macam, ada suami yang menelpon keadaan istrinya yang sedang bekerja di Arab atau pemuda yang ingin mengobrol dengan sang pujaan hati.

Pada waktu itu, dipastikan orang yang mempunyai usaha wartel pasti akan sejahtera. Bagaimana tidak, larisnya usaha ini adalah kepraktisan dan biayanya yang tak mahal. Cukup membayar Rp10 ribu per jam, Anda sudah bisa menggunakan kamar bicara umum (KBU).

Seperti dituturkan Deni (40), seorang pengusaha wartel dan warnet di daerah Paseban, Jakarta Pusat. Menurutnya, wartel kini tidak lagi diminati oleh sebagian besar masyarakat, terutama warga Jakarta. Selain biaya operasional yang tidak sedikit, kehadiran ponsel pintar yang semakin murah turut memperkeruh keadaan.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita ototekno lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement