Beruntung Daniel Speiser, mahasiswa pascasarjana dari University of California, Santa Barbara, telah membedah lensa mata chiton dari India Barat. Dia kemudian membenamkan mata chiton ke dalam bak asam untuk dibersihkan. Tapi, lensa mata bukannya menjadi bersih justru menghilang.
Speiser segera menemukan alasannya. Tidak seperti hampir semua lensa hewan lain yang terbuat dari protein organik yang akan menolak mandi asam, lensa chiton terbuat dari mineral yang disebut aragonit.
Mineral berbentuk kalsium karbonat atau kapur ini mudah larut dalam asam. Artinya, hewan ini melihat dunia melalui lensa yang terbuat dari batu yang bisa mendeteksi cahaya.
Ketika Speiser membuat bayangan pada chiton, makhluk itu akan berjongkok dan meratakan baju besi mereka di mana pun berada. Dia juga memprediksi bahwa mata tersebut seharusnya dapat membentuk gambar meskipun dengan resolusi 1.000 kali lebih buruk dari mata manusia.
(Kemas Irawan Nurrachman)