CALIFORNIA – Banyak hewan memiliki tubuh berlapiskan permukaan keras seperti cangkang, sisik, atau lempeng sebagai perlindungan diri. Namun, hewan yang satu ini punya ratusan mata dari batu untuk proteksi dirinya.
Mengutip dari The Atlantic, Sabtu (21/11/2015), hewan unik tersebut bernama chiton. Lensa matanya terbuat dari batu yang mengikis seiring usia hewan dan secara berkelanjutan mengganti otomatis.
Chiton berjenis moluska, bersaudara dengan siput, kerang, dan gurita. Tubuh oval mereka ditutupi cangkang keras yang terdiri dari delapan lempeng tumpang tindih.
Pada banyak spesies, lempeng ini dihiasi ratusan manik-manik kecil, masing-masing kurang dari sepersepuluh milimeter di seluruh tubuhnya. Namun di chiton, manik-manik tersebut adalah mata. Masing-masing berisi lensa, retina yang sensitif terhadap cahaya dan lapisan pigmen hitam.
Para ilmuwan sebenarnya telah mengetahui tentang mata ini sejak abad 19. Namun, mereka tidak yakin apakah chiton benar-benar bisa melihat dengan ratusan matanya.
Beruntung Daniel Speiser, mahasiswa pascasarjana dari University of California, Santa Barbara, telah membedah lensa mata chiton dari India Barat. Dia kemudian membenamkan mata chiton ke dalam bak asam untuk dibersihkan. Tapi, lensa mata bukannya menjadi bersih justru menghilang.
Speiser segera menemukan alasannya. Tidak seperti hampir semua lensa hewan lain yang terbuat dari protein organik yang akan menolak mandi asam, lensa chiton terbuat dari mineral yang disebut aragonit.
Mineral berbentuk kalsium karbonat atau kapur ini mudah larut dalam asam. Artinya, hewan ini melihat dunia melalui lensa yang terbuat dari batu yang bisa mendeteksi cahaya.
Ketika Speiser membuat bayangan pada chiton, makhluk itu akan berjongkok dan meratakan baju besi mereka di mana pun berada. Dia juga memprediksi bahwa mata tersebut seharusnya dapat membentuk gambar meskipun dengan resolusi 1.000 kali lebih buruk dari mata manusia.
(Kemas Irawan Nurrachman)