JAKARTA - Para astronom untuk pertama kalinya telah mendeteksi atmosfer pada planet berbatu di zona yang berpotensi layak huni di luar Tata Surya, menurut laporan baru dari tim ilmuwan yang dipimpin oleh Harvard.
Temuan ini berasal dari analisis data pada planet super-Earth LHS 1140b, yang mengorbit bintang katai merah sejauh 49 tahun cahaya dari Bumi di zona suhu yang secara teoritis memungkinkan keberadaan air cair. Penemuan ini, yang diterbitkan dalam jurnal Science pada Kamis (16/7/2026), didasarkan pada jejak helium yang keluar dari planet tersebut.
“Atmosfer sangat penting bagi sebuah planet untuk mendukung kehidupan seperti yang kita kenal,” kata Collin Cherubim, penulis utama studi ini dan seorang ilmuwan planet yang bekerja di Universitas Chicago, sebagaimana dilansir RT. “Ini adalah pertama kalinya seseorang menemukan atmosfer pada planet berbatu di zona layak huni bintang lain.”
Tim tersebut pertama kali mendeteksi sinyal itu pada tahun 2024, saat mengamati LHS 1140b dengan spektrograf WINERED pada Teleskop Magellan Clay di Chile. Instrumen tersebut menangkap penipisan helium di ketinggian, sebuah tanda bahwa gas tersebut terus bocor dari atmosfer atas planet.
Cherubim meredam kegembiraan tersebut dengan mengatakan bahwa "pada titik ini, kami sama sekali tidak memiliki bukti adanya kehidupan di planet tersebut," sambil menambahkan bahwa "kami pikir semua bahan penting dan esensial ada di sana."
Ilmuwan itu tetap menyebut penemuan tersebut "sangat menarik," serta menyatakan bahwa "ini benar-benar menempatkan LHS 1140b di garis depan sebagai laboratorium terbaik, paling menjanjikan, dan paling menarik untuk mempelajari astrobiologi dan kelayakan huni di luar tata surya kita." Dia mencatat bahwa LHS 1140b menyerupai Bumi dalam komposisi dan suhu secara keseluruhan, tetapi sangat berbeda di beberapa bagian lain, termasuk fenomena penguncian pasang surut (tidal locking) dan kemungkinan adanya cadangan air yang lebih dalam.