Tidak seperti paramotor yang harus diterbangkan dengan upaya pengguna atau peluncuran kaki, paratrike bisa mengandalkan roda dan dorongan mesin untuk mengudara yang dikenal sebagai metoda peluncuran roda.
Lebih lanjut paramotor yang digunakan TNI dan Hamas juga sama-sama memiliki airframe berukuran besar yang digunakan saat berada di udara.
Begitu juga dengan kursi paramotor yang berjumlah dua. Sejatinya paramotor untuk kebutuhan wisata atau olahraga hanya menyediakan satu kursi bagi penggunanya.
Kondisinya berbeda ketika digunakan untuk bertempur dimana paramotor menyediakan dua kursi untuk dua tentara.
Otomatis frame dari paramotor jauh lebih panjang dibandingkan paramotor untuk kebutuhan wisata dan olahraga.
Kehadiran tentara kedua justru memiliki tugas penting yakni melindungi pilot yang mengendalikan paramotor. Sebab tanpa perlindungan khusus, pilot paramotor sangat mudah dilumpuhkan dengan tembakan senapan jarak jauh.
Lalu apa perbedaannya? Sebenarnya tidak terlalu besar perbedaan antara paramotor TNI dan Hamas. Hanya saja paramotor TNI berdasarkan gambar yang diunggah oleh Gerry Soejatman memiliki dudukan khusus yang digunakan buat tatakan kaki tentara kedua.
Jadi ketika paramotor mendarat, kaki tentara tidak perlu kerepotan untuk mengendalikan laju paramotor saat mendarat.