WASHINGTON – Slingshot Aerospace, sebuah perusahaan analisis data antariksa yang berfokus pada keselamatan penerbangan antariksa baru-baru ini, mengungkap data yang menunjukkan adanya satelit mata-mata baru milik Rusia.
Satelit ini dikenal dengan Luch-2, yang menimbulkan kekhawatiran baru tentang spionase di antariksa. Hal ini serupa dengan pendahulunya Luch Olymp-K-1 yang telah berada di orbit sejak 2014.
Analisis Slingshot tentang manuver yang dimulai pada 26 September menunjukkan bahwa Luch-2 melayang ke arah barat dengan kecepatan sekitar satu derajat per hari. Luch-2 kemudian mulai melambat pada 2 Oktober untuk mengunjungi ‘lingkungan’ pesawat ruang angkasa GEO lainnya.
Mengutip dari SpaceNews, Selasa (10/10/2023), Audrey Schaffer, wakil presiden strategi dan kebijakan Slingshot, mengatakan bahwa manuver-manuver ini terdeteksi oleh perangkat lunak otomatis perusahaan yang melacak semua satelit.
"Kami tidak selalu mengawasi satelit ini. Kami hanya mencari hal-hal yang menonjol, perilaku yang tidak normal," kata Schaffer.
Slingshot tidak mengungkapkan satelit apa yang mungkin dimata-matai oleh Luch-2. Namun Schaffer mengatakan bahwa informasi ini dapat membantu pemerintah atau operator satelit komersial yang peduli dengan keamanan di luar angkasa. "Kami berpikir bahwa informasi ini dapat ditindaklanjuti, baik dari sisi militer maupun dari sisi komersial," ujarnya.
Luch-2 membawa muatan yang sebanding dengan muatan Luch-1, menurut Michael Clonts dari Kratos Defense. “Dengan satu dekade pengembangan teknologi tambahan yang tersedia untuk Luch-2, kemungkinan besar Luch-2 memiliki kemampuan intelijen sinyal dan teknik operasional yang lebih canggih." Ungkap Michael Clonts.
Slingshot mendeskripsikan perangkat lunak pelacakan ruang angkasa sebagai mesin pengenal objek berbasis pembelajaran mesin yang menarik data dari berbagai sumber. Sistem ini melacak pergerakan Luch-2 ke arah barat dan memprediksi ke mana arahnya.