JAKARTA - Kemajuan digital turut melahirkan influencer virtual. Meski diciptakan dengan kecerdasan buatan (AI), namun kehadiran influencer virtual di penjuru dunia seolah menjadi ancaman nyata para content creator.
Salah satu influencer virtual yang jadi sorotan adalah Lentari Van Lorainne. Populer dengan akun @lentaripagi, model virtual itu dengan cepat mendapatkan ribuan pengikut.
Hingga berita ini ditayangkan akun Instagramnya sudah memiliki 43,2 ribu lebih pengikut. Padahal akun itu baru dibuat pada April 2023.
Lebih lanjut, Lentari merupakan virtual idol pertama di Indonesia. Karakternya sendiri merupakan hasil kreatif dari (AI) yang diolah oleh Imagine8 Studio.
BACA JUGA:
Meski begitu sejumlah brand ternama tampak telah meng-endorse sang model virtual. Tidak heran keberadannya menjadi kontroversi karena dapat menggantikan content creator 'asli' yang ada saat ini.
"Mau virtual atau bukan, cuma model aslinya emang cakep sih ini," tulis pemilik akun Instagram @damarxxx.
"Lama-lama jadi nyata," tulis akun Instagram lainnya @ryudxxxx.
Sebelumnya Yudi Hamka, Presiden Director of MNC Kapital Indonesia saat menjadi pembicara Masa Depan Jurnalisme Ai yang digelar oleh iNews Media Group di MNC Financial Center, Kamis (3/8/2023) ini.
Dalam acara yang dihadiri oleh Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Angela Tanoesoedibjo itu Yudi Hamka mengatakan masyarakat memang harus menerima fakta bahwa kecerdasan buatan akan menghilangkan sejumlah pekerjaan.
Hal itu terjadi karena seiring waktu kecerdasan buatan akan semakin pintar. Masyarakat juga tidak akan bisa membendung gelombang teknologi baru tersebut.
"Jadi pekerjaan-pekerjaan seperti penterjemah dan sekretaris itu memang akan menghilang. Hanya saja nantinya justru akan muncul 40 juta pekerjaan baru di masa itu," jelas Yudi Hamka.
Hanya saja lahirnya 40 juta pekerjaan baru itu tidak akan muncul secara natural. Menurut dia puluhan juta pekerjaan baru itu baru bisa muncul jika masyarakat berupaya meningkatkan kemampuan mereka dalam menghadapi era kecerdasan buatan.
Masyarakat diharapkan bisa menemukan inspirasi yang tepat untuk meningkatkan kemampuan mereka. Dari situ baru akan muncul pekerjaan-pekerjaan baru yang justru tidak akan tergilas oleh kecerdasan buatan.
"Kita harus bisa mengadopsi dengan cepat upaya ini akan bisa jadi bagian 40 juta pekerjaan baru itu. Jadi terima saja era teknologi ini dan temukan skill-skill baru yang bisa meningkatkan potensi kita," harapnya.
(Saliki Dwi Saputra )