JAKARTA – PO Barumun sangat asing di telinga orang-ornag di Pulau Jawa, tapi tidak untuk warga Sumatera. PO bus asal Sumatera ini didirikan di Medan, Sumut, pada 4 Januari 1985.
Pendirian PO Barumun diakukan di hadapan notaris Aniswar, SH di Medan dengan nama perusahaan PT Barumun Medan. Tak lama setelah itu, mereka pun membuka cabang kedua di Sibuhuan untuk mencakup pasar lebih besar.
PT Barumun Medan diambil alih oleh Ir. Bahrensah Ananda Hasibuan, tanpa mengubah struktur organisasi yang sudah ada. Kepemilikan itu disahkan oleh Menteri Kehakiman RI pada 4 Juli 1995 no C2-94 HT.01.01.Th95.
Ketika perusahaan beralih kepemilikan, Bahrensah menjabar sebagai ketua direksi, sekaligus pemilik PT Barumun Medan. Di bawah kepemimpinannya, PO Barumun semakin besar dengan membuka sejumlah trayek.
Rute perjalanan yang dilayaninya seperti dari Medan ke Padang Lawas Utara, Padang Lawas, dan Riau. Bus besar PO ini melayani perjalanan dari Medan Pasir Pangairan-Ujung Batu Rokan dan Medan Sibuhuan.
PO Barumun juga terus mengikuti perkembangan dunia transportasi berbasis bus agar tidak kehilangan pelanggan. Ini juga menjadi salah satu langkah yang dilakukan untuk tetap eksis dalam perjalanan AKAP.
PO Barumun memberikan tiga layanan yakni kelas Ekonomi non AC dan AC Toilet, dan Eksekutif. Untuk kelas Ekonomi non-AC memiliki kapasitas 44 orang dengan konfigurasi kursi 2-3.
Sedangkan untuk kelas AC Toilet dapat menampung 48 orang dengan konfigurasi kursi 2-2. Sementara itu, kelas Eksekutif yang merupakan kategori tertinggi PO Barumun berkapasitas 38 penumpang dengan kursi 2-2.
Seluruh kelas ditawarkan dengan harga murah sehingga PO Barumum menjadi andalan masyarakat Sumatera untuk bepergian. Selain itu, bus yang digunakan juga sangat nyaman dengan armada yang berusia muda.
PO Barumun juga sempat viral karena memodifikasi bus dengan sasis 4x2 (enam roda) dua gardan menjadi sasis berporos tiga 6x2 (delapan roda). Ini dilakukan dengan menambah sendiri satu gardan di belakang dengn dua buah ban yang juga bisa berbelok.
Menggunakan sasis Mercedes-Benz lawas, mereka bisa membuat bus berkapasitas 24 ton yang dikerjakan oleh teknisi pinggir jalan. Sedangkan karoserinya dibuat oleh Cipta Karya Medan, dan bus tersebut masih aktif beroperasi hingga sekarang.
(Citra Dara Vresti Trisna)