Pada tahun 2001, PO Dieng Indah menjajal untuk buka trayek baru Purwokerto-Wonosobo-Semarang dan Purwokerto-Wonosobo-Jogja. Di trayek ini, Dieng Indah mengandalkan bus Nissan CB. Namun, kedua trayek itu tidak bertahan lama.
Banyak pihak yang beranggapan, PO Dieng Indah menang persaingan lantaran punya kru yang ramah. Bahkan, PO ini selalu ditunggu di bulan puasa. Setiap bulan Ramadan, para kru membagikan makanan berbuka di jalan. Kebaikan kecil semacam ini membuat PO Dieng Indah melekat di hati masyarakat. Bahkan masyarakat Wonosobo merasa memiliki bus Dieng Indah karena pelayanan yang diberikan.
Redup karena konflik internal
Nama besar PO Dieng Indah perlahan redup lantaran konfilik internal. Konflik berkepanjangan membuat PO ini harus dibagi menjadi dua. PO Dieng Indah menjadi milik sang ibu dan PO Dieng Indah Putra milik anak.
Namun, PO yang dikelola generasi kedua itu justru yang maju pesat karena rajin update armada baru. Mereka membuka trayek baru Jakarta-Jogja-Klaten. Meski begitu, eksistensi Dieng Indah sempat redup dan bahkan ditinggalkan oleh penggemarnya.
Seiring waktu, kedua PO yang awalnya terpecah ini nampak mulai akur. Hal itu terlihat dari kedua PO yang sudah berada dalam satu garasi. Setelah konflik mereda, PO Dieng Indah Putra kembali jadi satu.
Hingga kini PO yang sempat menggunakan nama Dieng Jaya ini masih tetap eksis bermain di jalur Wonosobo-Jakarta. Selain mempertahankan jalur antar kota antar provinsi (AKAP), PO Dieng Indah juga membuka layanan pariwisata.
(Citra Dara Vresti Trisna)