JAKARTA - Sekelompok insinyur dan ilmuwan di Woburn, Massachusetts, pinggiran kota di utara Boston, dilaporkan telah berhasil menciptakan baja yang ramah lingkungan.
Dilansir dari Ars Technica, Selasa (21/6/2022), memanfaatkan listrik untuk memisahkan besi dari bijinya, diklaim dapat membuat baja tanpa melepaskan karbon dioksida. Menawarkan jalan untuk membersihkan salah satu industri terburuk di dunia dari emisi gas rumah kaca.
Sebagai input penting untuk rekayasa dan konstruksi, baja adalah salah satu bahan industri paling populer di dunia, dengan lebih dari 2 miliar ton diproduksi setiap tahunnya. Kelimpahan baja ini, bagaimanapun datang dengan harga yang mahal untuk lingkungan.
Selanjutnya pembuatan baja menyumbang 7 hingga 11 persen dari emisi gas rumah kaca global, menjadikannya salah satu sumber polusi atmosfer industri terbesar. Hal ini karena produksi bisa naik sepertiga pada tahun 2050, beban lingkungan ini bisa bertambah.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan, pengurangan emisi karbon industri secara signifikan sangat penting, yakni untuk menjaga pemanasan global di bawah angka 1,5 Celcius yang ditetapkan berdasarkan perjanjian iklim Paris 2015.
Guna mencapai target itu, emisi dari baja dan industri berat lainnya harus turun 93 persen pada tahun 2050, ini diperkirakan oleh Badan Energi Internasional.
Menghadapi tekanan yang meningkat dari pemerintah dan investor untuk mengurangi emisi, sejumlah pembuat baja, termasuk produsen besar dan perusahaan rintisan, bereksperimen dengan teknologi rendah karbon yang menggunakan hidrogen atau listrik alih-alih manufaktur padat karbon tradisional.
“Apa yang kita bicarakan adalah industri padat modal dan menghindari risiko di mana gangguan sangat jarang terjadi,” kata Chris Bataille, ekonom energi di IDDRI, sebuah think tank penelitian yang berbasis di Paris.
Pembuatan baja modern melibatkan beberapa tahap produksi. Paling umum, biji besi dihancurkan dan diubah menjadi sinter (padatan kasar) atau pelet.