Kisah Miliardier Bangun Perusahaan dan Manfaatkan AI untuk Lawan Kanker

Ahmad Muhajir, Jurnalis
Kamis 09 Juni 2022 16:07 WIB
Kisah miliarder bangun perusahaan dan manfaatkan AI untuk lawan kanker (Foto: Shutterstock)
Share :

JAKARTA - Teknologi Kecerdasan Buatan (Artificial intelligence/AI) dinilai mengubah wajah dunia kesehatan dalam banyak hal, seorang miliarder pun tergerak memanfaatkannya untuk melawan kanker.

Diolah dari SCMP, Kamis (9/6/2022), ia merupakan pengusaha bernama Eric Lefkofsky, salah satu pendiri Groupon, situs e-commerce penyedia kupon diskon yang berbasis di Amerika Serikat.

Namun, Lefkofsky memutuskan untuk beralih ke sektor teknologi kesehatan, setelah istrinya didiagnosis menderita kanker.

Lefkofsky mendirikan perusahaannya Tempus pada tahun 2015, dengan tujuan membantu pengobatan pasien kanker dengan mengembangkan perangkat lunak AI yang dapat menggabungkan informasi pasien dari tes genomik dengan data dari catatan klinis.

Lefkofsky menggunakan pengetahuan yang telah dia kumpulkan di Groupon tentang cara menyusun data tidak terstruktur yang berantakan – istilah AI yang berarti semua data, bukan hanya numerik – untuk mengembangkan perangkat lunak yang dapat lebih menyesuaikan pasien individu dengan terapi kanker yang sesuai.

Dengan mengekstrak data klinis dari sistem rekam medis, dan menggabungkannya dengan data molekuler (tentang pengurutan DNA pasien) dan bioinformatika (perangkat komputer yang menafsirkan informasi biologis), Tempus membantu dokter menilai perawatan mana yang paling cocok untuk pasien.

Sebagian besar pekerjaan Tempus adalah mencari petunjuk dalam urutan DNA, dan perusahaan membangun labnya sendiri untuk menjalankan tes demi tujuan itu.

Disebutkan, menggabungkan pengurutan genetik dan teknologi pembelajaran mesin (machine learning) dapat mengubah cara pengobatan tumor.

“Saya menjabat sebagai CEO Groupon selama dua tahun, dan di tengah itu, istri saya didiagnosis menderita kanker payudara, dan saya mendapati diri saya didorong ke sebuah klinik,” kata Lefkofsky.

“Saya memiliki pengalaman menjengkelkan di mana saya merasa seperti sedang diteleportasi kembali ke masa lalu. Saya punya Tesla, saya punya iPhone, saya merasa sepenuhnya di abad ke-21 dan sampai di rumah sakit dan Anda merasa seperti berada di tahun 1980,” ujarnya.

“Saya merasa seperti berada dalam putaran waktu, dan itu berlaku untuk setiap bagian dari perawatannya, meskipun dia sangat berhati-hati. Teknologi dan data yang ada tujuh tahun lalu, dan dalam banyak kasus, masih ada sampai sekarang, tertinggal beberapa dekade di belakang industri lain. Saya pikir, seseorang harus memperbaiki ini,” ungkap dia, sambil menyampaikan bahwa perawatan di rumah sakit berhasil untuk istrinya.

Awal mulanya, Tempus pertama membuat pengujian genetik lebih personal.

“Saya mulai dengan mencoba membuat tes genomik menjadi cerdas dan mendukung data,” papar Lefkofsky.

“Saat itu, profil genetik pasien kanker relatif baru, dan tesnya sulit dipahami. Kami berpikir bahwa jika kami dapat mengontekstualisasikannya dan membuatnya spesifik untuk pasien, kami dapat membantu dokter menafsirkannya,” tuturnya.

Dia menyatakan, proses tersebut mengungkapkan lebih dari yang dia harapkan.

“Kami menyadari bahwa kami telah menemukan sesuatu yang lebih besar daripada membuat laporan genomik yang cerdas. Kami telah menemukan cara untuk menghadirkan diagnostik cerdas AI ke layanan kesehatan,” terang dia.

Tempus saat ini masih fokus pada pemilihan terapi, tetapi juga mengembangkan perangkat lunaknya untuk menganalisis kemungkinan kekambuhan kanker pada pasien yang sembuh.

"Memprediksi kanker juga merupakan kemungkinan, tetapi masih jauh," ucap Lefkofsky.

(Ahmad Muhajir)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Ototekno lainnya