RUPANYA Bali menjadi salah satu wilayah di Indonesia yang sangat terpuruk akibat pandemi Covid-19, khususnya di sektor pariwisata yang menjadi daya tarik terkuat wilayah tersebut.
Tak bisa tinggal diam, Pemerintah Provinsi Bali kemudian berupaya bangkit dari masa sulit ini dengan mengandalkan transformasi digital. Ya, upaya membangkitkan sektor pariwisata kembali di Bali diawali dengan membekali penduduk dengan akses internet yang memadai.
Melalui program Smart Bali Island, Gubernur Bali Wayan Koster berharap wilayahnya dapat perlahan bangkit dan semakin maju dalam hal pemberdayaan masyarakat digital di era pandemi yang sejalan juga dengan digitalisasi.
"Terhentinya sektor pariwisata di Bali sebagai upaya menghentikan penyebaran virus memberi dampak luar biasa bagi Bali, namun transformasi digital hadir sebagai solusi untuk pemulihan ekonomi," papar Wayan Koster dalam sambutannya di acara Opening Ceremony SEA IGF 2021 secara daring, Rabu (1/9/2021).
Untuk memperkuat capaian program, Pemprov Bali terus mengembangkan infrastruktur internet di seluruh wilayah Bali. "Hingga kini, ada 1838 titik hotspot internet tersebar di Bali dan ini diharapkan agar penduduk Bali lebih mudah mengakses internet dan ini sebagai bagian dari kebangkitan perekonomian Bali," terang Wayan Koster.
Ada beberapa lokasi yang ditetapkan secara khusus dalam program Bali Smart Island ini, antara lain di semua Desa Adat di Bali, objek wisata, Puskesmas, SMA, SMK, dan SLB. Hotspot internet gratis tersebut dikatakan juga akan terus ditambah untuk menjamin ketersediaan internet yang baik di Bali.
Selain itu, Wayan Koster mengatakan bahwa kekuatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Bali pun dengan hadirnya Relawan TIK diharapkan dapat berperan aktif menjadi pengembang perekonomian digital dalam rangka transformasi perekonomian yang ada di Bali. "Ini dilakukan agar Bali tidak lagi terlalu bergantung pada dunia pariwisata," terang Wayan Koster.
Ia menambahkan, transformasi digital di Bali harus dimanfaatkan sebagai infrastruktur di dalam mendukung perekonomian dan digital di provinsi Bali.
"Saya sangat berharap Relawan TIK ini bisa berdiskusi lebih banyak untuk hal-hal yang konkrit di dalam memajukan dan mempercepat penggunaan TIK di Bali yang memang betul-betul menjadi keharusan di dalam era perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini," tambahnya.
(Dyah Ratna Meta Novia)