"Kami menerima serta memproses setiap laporan, serta laporan pemblokiran dari pengguna," imbuhnya.
Sementara itu Ketua Presidium Mafindo Septiaji Eko Nugroho, sebuah organisasi pencari fakta independen, memaparkan, dalam catatannya sebanyak 13%-15% hoaks yang dilaporkan berasal dari WhatsApp. "Tindakan prefentif dari pengguna WhatsApp menjadi sangat krusial," tegasnya.
Baca Juga: Tombol Belanja Kini Tersedia di WhatsApp
Di sisi lain, WhatsApp juga berupaya mengedukasi dan mendorong penggunanya agar tetap aman dan terhindari dari informasi hoaks yang beredar. Caranya, dengan bekerja sama dengan pemerintah dan komunitas.
Upaya terbaru yang dilakukan WhatsApp adalah mengkampanyekan program ABC (Amati isinya, Baca Sampai Habis, Cek sumbernya). Ini merupakan kampenye publik untuk memitigasi penyebaran hoaks melalui WhatsApp.
"ABC adalah tiga langkah yang mudah diingat oleh pengguna WhatsApp ketika menerima pesan yang belum tentu benar," tandas Sravanthi.
(Amril Amarullah (Okezone))