JAKARTA - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mendeteksi kilatan matahari atau dikenal denga Flare terjadi pada pukul 14.24 WIB dan 17.46 WIB, 29 Mei lalu.
“Kilatan Matahari merupakan salah satu kejadian energi tinggi di Matahari yang menjadi penanda aktivitas Matahari. Semakin tinggi aktivitas Matahari, semakin sering flare teramati,” tulis diakun IG resmi milik LAPAN @lapan_ri.
“Flare yang terjadi hari Jumat lalu terbilang istimewa dan cukup mengagetkan karena dua alasan. Pertama, flare dengan kelas M1.1 tersebut merupakan flare kuat yang terjadi pertama kali pada siklus Matahari ke-25 ini. Flare kuat terakhir terjadi bulan Oktober 2017 ketika Matahari mengalami musim badai terkuat pada siklus ke-24 yang lalu,” ungkapnya.
Karena kedua flare tersebut dihasilkan oleh satu daerah yang baru saja muncul di tepi timur piringan matahari. Potret dan karakteristik daerah aktif menjadi dasar untuk memprediksi apakah daerah tersebut akan menghasilkan flare atau tidak.
Prediksi flare dari daerah yang baru saja ‘terbit’ di sisi timur Matahari masih menjadi tantangan.
Flare Matahari dapat diikuti oleh semburan materi atau lontaran massa korona (coronal mass ejection/CME) yang bisa memicu badai geomagnet di Bumi.
Flare hanyalah kilatan cahaya energi tinggi sementara CME adalah semburan partikel bermuatan yang perlu waktu lebih panjang untuk mencapai Bumi. Bila CME mengarah ke Bumi, perlu waktu sekitar 3 hari sebelum timbulnya badai geomagnet.
(Ahmad Luthfi)