Studi Ungkap Mengapa Isolasi Diri Optimal Cegah COVID-19

Pernita Hestin Untari, Jurnalis
Senin 30 Maret 2020 18:52 WIB
Ilustrasi (Foto: Ist)
Share :

JAKARTA- Virus corona SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit COVID-19 telah mencapai angka kasus positif lebih dari 720 ribu diseluruh dunia. Mayoritas negara di dunia telah mengumumkan lockdown atau karantina wilayah untuk menahan penyebaran COVID-19. 

Virus SARS-CoV-2 merupakan virus baru yang menyerang pernapasan, sehingga masih belum jelas bagaimana mengenali gejala dan waktu yang tepat. Sebelumnya diketahui gejala awal pada umumnya yakni demam, kelelahan, batuk kering, dan kesulitan bernafas dalam kasus yang parah.

Namun, beberapa pasien mungkin juga mengalami pilek, sakit tenggorokan, bersin, kongesti, sakit tubuh, diare, dan banyak lagi. Kondisi setiap orang pun berbeda-beda, beberapa ada yang sakit parah, yang lain mengalami gejala ringan. Hal ini menjadikan sulit untuk mengenali siapa yang mungkin menjadi pembawa virus dan siapa yang tidak, sehingga isolasi diri menjadi salah satu upaya untuk mencegah penyebaran.

Penelitian yang diterbitkan dalam The Lancet menunjukkan bahwa isolasi diri adalah ide yang baik bahkan ketika gejalanya ringan sampai nol. Virus ini dapat menyebar dengan mudah tidak peduli pada tahap penyakit apa pasien tersebut berada.

Penelitian yang dipimpin oleh Kwok-Yung Yuen dari Departemen Mikrobiologi Klinik dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit Universitas Hong Kong-Shenzhen mengungkapkan bahwa komponen virus tinggi pada orang yang terinfeksi pada tahap awal dan mereka lebih mudah menginfeksi orang lain dengan menumpahkan partikel virus ukuran tinggi walaupun mereka mengalami gejala ringan.

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan sampel darah, urin, air liur, dan orofaring posterior dari 23 pasien di rumah sakit Hong Kong. Sesuai laporan tersebut, penelitian ini mengungkapkan bahwa viral load saliva pasien adalah yang tertinggi pada minggu pertama pengembangan gejala. Viral load menurun setelah itu selama periode waktu tertentu.

Pada orang tua, pasien COVID-19, viral load juga ditemukan lebih tinggi. Ini mengkonfirmasi saran bahwa orang yang lebih tua berisiko lebih besar terinfeksi COVID-19 . Temuan ini terus mengklaim bahwa viral load yang tinggi pada tahap awal gejala dapat menjadi salah satu alasan mengapa itu adalah penyakit yang menyebar cepat yang sekarang telah dinyatakan sebagai pandemi oleh WHO.

(Amril Amarullah (Okezone))

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Ototekno lainnya