JAKARTA - Sebelum diciptakannya stapler, manusia telah mencoba segala hal, mulai dari menjahit, menempel hingga menusuk. Sekira 1200 Masehi, sekelompok akademisi abad pertengahan menjadi orang pertama yang merekatkan halaman menggunakan pita dan lilin, mereka juga yang pertama kali menjepitkan kertas pada bagian pojok atas kiri, seperti yang masih berlaku hingga kini.
Pada abad ke-18, pembuat alat asal Perancis membuat stapler buatan tangan untuk seorang raja, tepatnya King Louis ke-XV. Legenda mengatakan, stapler itu terbuat oleh bahan yang ditempa dari emas dan berlapiskan batu mulia.
Stapler yang kurang mewah, tetapi lebih praktis, diciptakan di Amerika dan dipatenkan pada 1866 oleh Novelty Manufacturing Company, pelopor stapler modern. Perbedaannya dengan stapler zaman sekarang, yaitu hanya terdapat satu kawat jepit (isi stapler).
Mesin tersebut akan menjepit kertas dengan sebuah logam dengan ditekan oleh pendorong yang besar. Namun, itu belum cukup untuk merekatkannya karena mereka harus menekannya kembali dengan tangan.
Pada 1879, hal tersebut bukan lagi sebuah masalah karena sebuah mesin stapler baru yang lebih efisien – tanpa harus menekan kembali dengan tangan – telah hadir di pasaran, yaitu McGill's Patent Single Stroke Staple Press. Namun, karena harus isi ulang secara terus-menerus, mesin tersebut tidak benar-benar memicu revolusi stapler.