Diketahui, layanan video terbesar di dunia itu telah mengubah kebijakannya beberapa kali pada tahun ini. Pada Maret, Google memperkenalkan perangkat lunak dan star baru untuk memantau video, setelah sejumlah pemasar berjanji untuk menarik pengeluaran Youtube, karena kekhawatiran iklan mereka berjalan bersamaan dengan konten ekstrem.
Pada bulan berikutnya, Google juga menambahkan fitur baru untuk membatasi iklan Youtube. Para eksekutif mengklaim bahwa jumlah video yang terkena dampak hanya sedikit, namun mereka menekankan bahwa baik manusia maupun sistem kecerdasan buatan tidak dapat memastikan YouTube sepenuhnya dapat terbebas dari video kontroversial.
Awal bulan ini, YouTube juga mengatakan bahwa lebih dari 75% video dihapus karena melanggar kebijakannya ditandai oleh perangkat lunak barunya sebelum intervensi manusia.
Dengan kebijakan terbaru, YouTube menargetkan konten pada batas yang lebih sulit, seperti video yang mendukung teori penyangkalan Holocaust dan klip dari supermasi kulit putih David Duke. Demikian dilansir dari The Independent, Jumat (25/8/2017).
(Kemas Irawan Nurrachman)