JAKARTA – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memperingatkan bahwa anak-anak dapat terpapar kekerasan dari satu video yang kemudian berlanjut menjadi rangkaian tontonan serupa yang terus direkomendasikan. Terkait hal ini, Komdigi menekankan bahwa risiko tersebut harus dihadapi melalui tanggung jawab platform, sebagaimana arah perlindungan anak dalam PP TUNAS.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kementerian Komdigi, Mediodecci Lustarini, mengatakan aktivitas menonton dapat dibaca oleh algoritma sebagai ketertarikan pengguna. Sistem kemudian menyodorkan konten sejenis, yang berisiko membuat anak semakin dalam terpapar narasi kekerasan.
“Ketika kita menghabiskan waktu sekian detik, bahkan menonton konten tersebut sampai selesai, algoritma media sosial tuh nyatat. Oh, dia tertarik,” ujar Mediodecci dalam perbincangan bersama Jun Bintang di vlog Ngopling, yang ditayangkan di YouTube pada Kamis (22/10/2026). Ia menjelaskan bahwa durasi menonton turut menjadi sinyal bagi sistem rekomendasi.
Menurutnya, paparan yang berlangsung berulang dapat membuat konten kekerasan semakin mendominasi apa yang dilihat anak. Persoalannya bukan hanya jumlah video yang dikonsumsi, melainkan bagaimana tontonan tersebut memengaruhi cara anak memahami kekerasan. Ia menyebut risiko terbentuknya echo chamber atau ruang gema, ketika pengguna terus menerima pesan yang menguatkan pandangan serupa. Dalam situasi itu, narasi berbahaya dapat terasa wajar, bahkan seolah memberikan pembenaran untuk bertindak.
Mediodecci menjelaskan, narasi kekerasan juga bisa dikemas sebagai tindakan kepahlawanan. Anak dibuat membayangkan bahwa dirinya memiliki peran khusus untuk memperbaiki dunia, meskipun tindakan yang didorong justru membahayakan orang lain. Proses pengaruh tersebut, menurutnya, dapat berlangsung melalui video pendek dan keterlibatan dalam komunitas daring, tanpa harus diawali pertemuan langsung.
Menghadapi pola itu, Mediodecci menegaskan bahwa pengawasan keluarga tidak dapat bekerja sendirian. Orang tua mendampingi anak di rumah, tetapi platform mengendalikan sistem dan fitur yang membentuk pengalaman anak di ruang digital.
“Tidak hanya orang tua yang dikasih beban. Jadi melalui regulasi kita kasih bebannya ke platform,” katanya.